we are together

Daisypath Anniversary tickers

Senin, 16 Mei 2011

L.O.V.E


Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur...?
Ketika kita menangis...?
Ini karena hal yang terindah di dunia tidak terlihat

Kita semua agak aneh...dan hidup sendiri juga agak aneh.
Dan ketika kita menemukan seseorang....
Yang keunikannya sejalan dengan kita...
Kita bergabung dengannya
Dan jatuh kedalam suatu keanehan serupa yang dinamakan " cinta "

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan...
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan..
Tapi ingatlah...melepaskan bukan akhir dari dunia..
Melainkan awal suatu kehidupan baru.

Kebahagian ada untuk mereka yang menangis..
Meraka yang tersakiti...
Mereka yang telah mencari...
Dan mereka yang telah mencoba..
Karena merekalah yang bisa menghargai...
Betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta yang agung ?
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya.
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu.. kamu masih menungguhnya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain, dan kamu masih bisa tersenyum
sembari berkata " aku turut berbahagia untukmu "

Apabila cinta tidak berhasil bebaskan dirimu...
Biarlah hatimu kembali melebarkan sayapnya
Dan terbang ke alam bebas lagi Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya.....
Tapi ketika cinta itu mati..
kamu tidak perlu mati bersamanya.....
Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh...

Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupanmu..
Kamu belajar tentang dirimu sendiri...
Dan menyadari....
Bahwa penyesalan tidak seharusnya ada....
Hanya penghargaan abadi..
Atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat

Teman sejati mengerti ketika kamu berkata " aku lupa..."
Menunggu selamanya ketika kamu berkata' tunggu sebentar..
Tetap tinggal ketika kamu berkata ' tinggalkan aku sendiri...'
Membuka pintu mesti kamu belum mengetuk...
Dan berkata...' bolehkah aku masuk..?

Mencintai bukanlah bagaimana kamu melupakan...
Melainkan bagaimana kamu memaafkan...
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan...
Melainkan bagaimana kamu mengerti...
Bukanlah apa yang kamu lihat...
Melainkan apa yang kamu rasakan...
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan...
Melainkan bagaimana kamu bertahan..

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati..
Di bandingkan menangis tersedu-sedu..
Air mata yang keluar dapat di hapus...
Sementara air mata yang tersembunyi...
Mengoreskan luka yang tidak pernah hilang..

Dalam urusan cinta, kita sangat jarang menang..
Tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kalah, kau tetap menang...
Hanya karena kamu berbahagia...
Dapat mencintai seseorang ...
Lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri...

Akan tiba saatnya di mana kamu harus berhenti mencintai seseorang...
Bukan karena orang itu berhenti mencintai kita
Melainkan karena kita menyadari...
Bahwa orang itu akan lebih berbahagia, apabila kita melepaskannya

Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang
Jangan lepaskan dia..
Jangan percaya bahwa melepaskan..
Selalu berarti kamu benar-benar mencintai..
Melainkan berjuanglah demi cintamu... itulah cinta yang sejati...
Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan..
Daripada berjalan bersama orang yang tersedia
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai
Daripada memaksa dengan yang ada di sekelilingmu..

Lebih baik menunggu orang yang tepat..
Karena hidup ini terlampau singkat untuk di buang
Hanya dengan seseorang;
Kadangkala orang yang paling kamu cintai...
Adalah orang yang menyakiti hatimu...
Dan kadangkala, teman yang membawa kedalam pelukannya..
Dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari..
Cinta yang sesungguhnya

Minggu, 01 Mei 2011

Resensi Novel Because She Can



Sinopsis :
Saat Claire Truman diterima sebagai editor di penerbitan ternama, dia sudah mendengar desas-desus tentang calon bosnya, Vivian Grant: tiran kejam yang meninggalkan jejak berdarah sesudah amukannya yang legendaris, dan mitos itu diceritakan dari mulut ke mulut oleh para korban yang trauma. Namun, Claire setengah tak percaya dan hanya melihat kesuksesan Grant melontarkan buku demi buku ke puncak daftar best-seller.

Tak ada asap jika tak ada api, Gosip-gosip itu rupanya beralasan, dan tak lama pekerjaan Claire pun menyita seluruh waktunya dan menggoyahkan hubungan dengan tunangannya. Keadaan itu tak jadi lebih mudah karena Claire bekerja dengan seorang pengarang yang brilian - dan ganteng.

Ketika tuntutan-tuntutan Vivian semakin tak masuk akal, Claire pun mulai berantakan dan mempertanyakan kewarasan dirinya.

Spesifikasi Buku
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Pengarang : Bridie Clark
Kelompok : Novel
Bahasa : Indonesia
Cover : softcover

Resensi Buku Ketertindasan dan kekuatan Perempuan Jawa



Judul : Hati Sinden

Penulis : Dwi Rahayuningnsih

Penerbit : DIVA Press

Terbit : I, Januri 2011

Tebal : 404 halaman

Harga : Rp. 50.000

Perempuan Jawa adalah wajah ketertindasan. Ia tidak memiliki posisi yang sejajar dengan laki-laki. Sebaliknya, ia menjadi korban dominasi laki-laki. Di sini ada persekongkolan kultural kekuasaan yang menguatkan posisi dan peran tradisional perempuan.

Itulah yang dihadirkan oleh Dwi Rahayuningnsih lewat novel ini. Ia menghadirkan sosok perempuan Jawa dengan problem-problem budaya yang mengungkung. Namun, demi harmoni, mereka lebih memilih untuk “berdamai” dengannya.

Sayem, tokoh sentral dalam Hati Sinden, adalah simbolisasiperempuan Jawa tersebut. Ia berasal dari keluarga miskin. Dua kali ia diceraikan oleh suaminya. Pada perceraian ke dua, alasan yang digunakan ialah Sayem tidak dapat memberikan keturunan.

Perceraian itu ternyata tidak menghancurkan mentalnya. Meskipun dukanya mendalam, Sayem berusaha untuk bangkit. Ia tidak mau tenggelam dalam kesedihan. Ia terus mencoba untuk kembali menata hidupnya.

Ketertarikan Sayem kepada syair-syair Jawa klasik mendorongnya untuk menjadi sinden. Namun bukan uang ataupun popularitas yang dicarinya, melainkan ketenangan yang merasuk ke dalam hati saat ia melantunkan syair-syair Jawa yang penuh makna.

Sayem kemudian bergabung dengan sebuah grup karawitan. Di sini pun ia berhadapan dengan berbagai masalah, mulai dari perseteruan dengan sinden lain, hingga keinginan Priyo, pemimpin grup karawitan tempat ia bergabung, untuk menikahinya.

Hubungan Sayem dengan Priyo mengantarkan Sayem kepada pernikahannya yang ke tiga. Tetapi badai lagi-lagi melanda. Priyo tidak hanya ketahuan sebagai pria yang telah memiliki istri, namun juga terbongkar sebagai lelaki yang tergila-gila kepada perempuan lain.

Sayem akhirnya pasrah. Ia tidak bercerai dengan Priyo namun memutuskan untuk hidup berpisah dengan suaminya itu. Tanpa banyak bantuan dari Priyo, Sayem berusaha untuk membesarkan anak-anaknya.

Di titik inilah tampak Sayem tampil sebagai perempuan Jawa yang memiliki kekuatan. Meskipun ia berada dalam posisi yang terkalahkan, namun ia tidak melakukan pemberontakan dengan melawan kekuasaan. Sebaliknya, Sayem mencoba “bermain” dalam lingkar kekuasaan Priyo sehingga berhasil mengantarkan anak-anaknya ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Lewat peran-peran dan nilai-nilai tradisional, Sayem berhasil menjadi pribadi yang kuat dan mengalahkan realitas dalam wilayah subordinasi yang mengepungnya. Seperti yang diungkapkan oleh Sayem sendiri bahwa hidup adalah kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai dengan peran yang dijalankan (hal. 388).

Novel ini seperti mengingatkan bahwa perempuan Jawa yang secara stereotip berada di bawah bayang-bayang kuasa dunia matriarki, memiliki potensi untuk menggeser hegemoni. Ia seakan mendekonstruksi struktur tanpa harus merevolusi konsepsi budaya yang telah mapan.

Kritik terhadap novel ini ialah, hingga separuh buku masih belum tampak dunia sinden seperti yang “dijanjikan” lewat judul. Jika saja Sayem dan dunia kesindenannya dikisahkan lebih awal, maka akan semakin banyak seluk-beluk dunia sinden yang menarik yang dapat disampaikan.